KUNJUNGAN DAN INVENTARISASI SITUS SEJARAH MERANGKAI AWAL ISLAMISASI DI SAMBAS

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG – Yayasan Melayu Alam Sriwijaya (Malaya) Cabang Kabupaten Sambas melakukan Kunjungan pada situs-situs sejarah yang terdapat di Kota Bangun. Kegiatan ini adalah rangkaian kunjungan pada dua situs penting yg ada di Sambas yaitu Kota Lama dan Kota Bangun.

Setelah terlaksana di Kota Lama, dilanjutkan pula inventarisasi di Kota Bangun. Dua tempat ini terdapat dalam naskah Asal-usul Raja-raja Sambas yg mengkisahkan tentang pembentukan kesultanan Sambas.

Dalam kunjungan di Kota Bangun, Tim kunjungan di ketuai oleh Tomi, M. Hum salah satu pengurus Malaya Cabang Kabupaten Sambas sekaligus Dosen Sejarah IAIS Sambas.

Dalam keterangannya Kota Bangun, atau yang sekarang disebut dengan Sebangun, sebenarnya memiliki situs penting sebagai bukti perkembangan awal Islam di daerah ini, yaitu terdapat peninggalan berupa bangunan Masjid yang bernama Masjid Raden Sulaiman.

Posisi Masjid tepat berada di depan simpang tiga pertama sungai Sambas yang menuju sungai Sambas kecil di sebelah kirinya yang menuju arah Istana Sambas, sebelah kanannya menuju Kartiasa, Teluk Keramat, Kota Lama dan seterusnya yang lebih disebut dengan nama sungai Sambas besar dan di depannya mengarah ke Laut yang bermuara di Pemangkat.

Masjid yang dimaksud berdasarkan data yang berhasil dihimpun didirikan pada tahun 1647 M, kira-kira 15 tahun setelah pusat pemerintahan kerajaan Sambas dipindahkan dari Kota Lama menuju ‘Kota Baru’ yakni Muare Ulakan.

Menurut Tomi, tahun tersebut sebenarnya merupakan tahun dimana Islam telah memperlihatkan dipermukaan dengan perkembangannya, bukan merupakan awal kedatangan.

Karena dalam teori penyebaran Islam di Nusantara bahwa berdirinya sebuah kerajaan lokal dengan corak Islam yakni kesultanan merupakan penanda bahwa Islam telah mapan di suatu daerah, termasuk pula di Sambas.

Dalam kunjungan ke Kota Bangun, Tim sangat terkejut dengan kondisi yang terjadi, yaitu pada situs Masjid Raden Sulaiman tersebut.

Berdasarkan keterangan masyarakat yang ditemui oleh Tim mengabarkan bahwa bentuk asli Masjid telah dirubah total tanpa meninggalkan dan menggambarkan bentuk aslinya, masyarakat yang hadir juga tidak begitu pasti kapan Masjid tersebut di rubah, Dahulu ia bernama Masjid Raden Sulaiman sekarang berubah menjadi Surau Raden Sulaiman.

Berkaca dari peristiwa tersebut, Tim kunjungan dan Inventarisasi situs merasa perlu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas agar dapat menjaga situs-situs sejarah agar tetap lestari, karena pada situs tersebut terdapat identitas kita sebagai masyarakat yang memiliki keragaman an sejarahnya dalam membangun peradaban bangsa ini.

Situs sejarah adalah bukti penting yang menunjukkan eksistensi kita sebagai manusia yang berperadaban. (FS/RLS)