JPU Tunggu Putusan Sela Hakim Hadirkan Saksi Pihak Bank Sumsel Babel di Sidang Dugan Korupsi Kredit

Ketua Tim JPU Kejati Sumsel, Adi Purnama. (foto-ferdinand/koransn)

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG – Ketua Tim Jaksa Penutut Umum (JPU) Kejati Sumsel, Adi Purnama, Minggu (10/11/2019) mengungkapkan, pihaknya masih menunggu putusan sela Majelis Hakim untuk menghadirkan saksi dari Bank Sumsel Babel dalam sidang dugaan korupsi kredit modal di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang dengan terdakwa Ir Augustinus Judianto.

Menurutunya, apabila dalam putusan sela tersebut Majelis Hakim menolak eksepsi terdakawa Augustinus Judianto, barulah dirinya bersama timnya berkoordinasi guna menjadwalkan para saksi termasuk saksi dari pihak Bank Sumsel Babel untuk dihadirkan dalam persidangan.

“Untuk itu saat ini kami masih menunggu putusan sela yang dalam persidangan Kamis mendatang, baru akan dibacakan oleh Majelis Hakim dalam sidang lanjutan dugaan kasus kredit modal yang telah menimbulkan kerugikan negara sekitar Rp 13 Miliar ini. Jika dalam putusan sela tersebut Hakim menolak eksepsi (keberataan terdakwa atas dakwaan JPU) dari terdakwa, maka sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, sedangkan terkait eksepsi terdakwa tersebut pada sidang sebelumnya sudah dijawab oleh pihaknya selaku Jaksa Penutut Umum Kejati Sumsel.

“Dalam sidang kami menolak semua eksepsi yang diajukan terdakwa melalui kuasa hukumnya. Jadi untuk saat ini kami masih menunggu tanggapan Hakim terkait eksepsi tersebut yang pada sidang pekan depan akan disampaikan oleh Majelis Hakim dalam putusan selanya,” ujarnya.

Dijelaskannya, pihaknya selaku JPU menolak semua eksepsi terdakwa karena materi eksepsi yang dibacakan oleh kuasa hukum dalam persidangan, semuanya sudah masuk dalam materi persidangan.

“Pada eksepsi itu, kuasa hukum dari terdakwa kan keberatan terkait dakwaan kami, karena kuasa hukum terdakwa menilai kerugian negara pada dakwaan kami tersebut tidak diuraikan. Kemudian kuasa hukum menilai jika perkara ini merupakan perdata, selain itu dakwaan kami juga dinilai tidak cermat dalam pembuktian perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. Nah, karena semua eksepsi ini masuk dalam materi sidang yang nantinya akan dibuktikan pada persidangan, makanya kami menolak eksepi tersebut,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, dalam persidangan dengan agenda dakwaan yang digelar, Kamis (17/10/2019) di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, terdakwa Ir Augustinus Judianto selaku Komisaris dan juga pemilik saham PT Gatramas Internusa didakwa JPU Kejati Sumsel dengan Pasal 2 Subsider Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Berdasarkan Pasal 2 dan Pasal 3 tersebut, adapun ancaman terdakwa dalam dugaan kasus ini yakni minimal 1 tahun dan 4 tahun penjara,” tegas Ketua Tim JPU Kejati Sumsel, Adi Purnama kala itu.

Diungkapkannya, dugaan kasus ini terjadi bermula saat terdakwa Augustinus Judianto bertemu Direktur Utama Bank Sumsel Babel yang saat itu dijabat oleh Muhammad Adil dalam suatu acara yang digelar di kawasan Jenderal Sudirman Palembang.

“Pada acara tersebut terdakwa Augustinus Judianto berkenalan dengan Muhammad Adil. Kemudian terdakwa menanyakan terkait pinjaman kredit modal usaha sehingga saat itu Muhammad Adil menawarkan terdakwa fasilitas kredit modal usaha Bank Sumsel Babel,” ujarnya.

Menurutnya, tak lama dari pertemuan tersebut terdakwa mengajukan pinjaman kredit modal usaha ke Bank Sumsel Babel sesuai tawaran fasilitas kredit yang disampaikan oleh Muhammad Adil kepada terdakwa saat pertama kali mereka berkenalan.

“Dalam pengajuan pinjaman kredit ini, terdakwa Augustinus Judianto dan Direktur PT Gatramas Internusa Hery Gunawan menjaminkan agunan berupa mesin bor untuk tambang minyak jenis Top Drive Brand Tesco USA Type 500 HC750 Hidraulic Top Drive Sistem dan dua bidang tanah kepada pegawai Bank Sumsel Babel. Setelah menyerahkan agunan tersebut kemudian sekitar tanggal 28 Mei 2014 terdakwa melakukan tandatangan perjanjian kontrak (PK) dengan pihak Bank Sumsel Babel, yang ketika itu dilakukan di lantai 8 Kantor Pusat Bank Sumsel Babel di Palembang,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, setelah dilakukan PK tersebut akhirnya PT Gatramas Internusa mendapat bantuan kredit modal usaha dari Bank Sumsel Babel senilai Rp 15 miliar, yang penyaluran kredit tersebut dilakukan dua tahap.

“Namun setelah menerima bantuan kredit modal usaha ternyataterdakwa tidak melakukan pembayaran cicilan kredit. Bahkan saat PT Gatramas mendapatkan pekerjaan sebagai sub kontraktor dalam pembangunan Pabrik PT Pusri 2 B di Palembang, Muhammad Adil yang saat itu menjabat Direktur Utama Bank Sumsel Babel melakukan komunikasi dengan terdakwa melaui telepon guna mempertanyakan pembayaran cicilan pokok hutang kredit yang belum dibayarkan,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakannya, usai komunikasi tersebut lalu di tahun 2015 terdakwa Augustinus Judianto bersama Direktur PT Gatramas Internusa, Hery Gunawan (telah meninggal dunia) melakukan pertemuan dengan pihak Bank Sumsel Babel guna membahas tunggakan hutang kredit yang belum dibayarkan.

“Dalam pertemuan tersebut terdakwa menyampaikan meminta waktu hingga tahun 2016 untuk membayarkan semua tunggakan hutang kredit. Adapun alasan terdakwa belum dapat membayarkan hutang kredit tersebut lantaran masih menunggu pembayaran dari sejumlah proyek yang dikerjakan oleh PT Gatramas Internusa,” terangnya.

Menurutnya, lalu di tahun 2017 ternyata PT Gatramas Internusa dinyatakan pailit hingga terdakwa tidak dapat membayarkan semua hutang pokok dan bunga dari kredit modal usaha yang diberikan oleh Bank Sumsel Babel.

“Nah, berdasarkan penyelidikan Kejati Sumsel dari kejadian tersebut, ternyata sejak awal agunan yang diajukan terdakwa, yakni berupa mesin bor untuk tambang minyak jenis Top Drive Brand Tesco USA Type 500 HC750 Hidraulic Top Drive Sistem dan dua bidang tanah yang diserahkan kepada Bank Sumsel Babel tidak sesuai dengan nilai kontrak kredit sehingga dalam dugaan kasus ini negara mengalami kerugian senilai Rp 13 miliar lebih,” terang JPU saat itu.

Sumber: koransn.com (ded)

Posted by: Admin