JPU: Gubernur Bengkulu (nonaktif) Ridwan Mukti Pengendali Suap

Gubernur Bengkulu (nonaktif) Ridwan Mukti sampai Polda beberapa waktu yang lalu.

TRANSFORMASINEWS.COM, BENGKULU.  Kesaksian Rico Dian Sari (RDS), Direktur Utama PT Rico Putra Selatan (RPS) pada sidang Kepala Perwakilan PT Statitka Mitrasarana (SMS), Jhoni Wijaya menguatkan sangkaan skandal suap fee proyek dikendalikan oleh Gubernur Bengkulu (nonaktif) Ridwan Mukti. Banyak indikasi dan fakta yang menunjukkan RM berperan langsung dalam skandal suap, mulai dari kesaksikan Kepala Dinas PUPR, Kuntadi hingga pernyataan Rico Dian Sari.

Meski saksi dan bukti belum diungkap oleh Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK).  Mengingat sidang di Pengadilan Negeri Tipikor Bengkulu baru mendudukan Jhoni  Wijaya sebagai terdakwa pemberi suap. Sedangkan sidang RM sebagai pihak yang disangka penerima suap baru digelar pertengahan Oktober nanti.

“Fakta sidang, beberapa saksi menyebutkan peran RM. Sudah kuat RM menjadi pengendali suap, karena ibu Lily istrinya sama sekali tidak memilik banyak wewenang dalam hal kebijakan itu,” kata Ketua Tim JPU KPK, Fitroh Rohcayanto.

Dia menegaskan, setelah dipanggil 12 saksi dalam sidang Jhoni Wijaya, sudah semakin terang menguatkan jika peran RM sebagai pengendali kebijakan dalam skandal  suap.

Fakta pertama sebut Fitroh, kesaksian Kepala Dinas PUPR, Kuntadi dalam sidang kedua Jhoni Wijaya. Terungkap awal September Ridwan Mukti memanggil Kuntadi Kepala Dinas PUPR, menggunakan bahasa Jawa, “Ojo Lali Lek Ono Susuke”, yang dimaksudkan kalimat itu adalah, RM mengingatkan Kuntadi jangan lupa memberikan uang proyek. Serta dalam beberapa pertemuan dengan beberapa kontraktor, inisiatif RM dibenarkan dalam BAP KPK.

“Pertemuan tersebut, RM menitip pesan lewat Kuntadi dan adiknya Rico Khadafi. Dalam sidang Rico Khadafi membenarkan jika RM yang suruh memanggil. 1 Juni 2017, pertemuan berlangsung di lantai 5 Hotel Mulya Senayan Jakarta, terekam CCTV di Hotel. Lalu 7 Juni 2017, RM memanggil semua kontraktor pemenang lelang, dan marah karena tidak datang ke Jakarta. RM menyebutkan jika ada urusan dikoordinasikan pada Rico Dian Sari,” jelasnya.

Termasuk fakta di hari OTT, tanggal 20 Juni 2017. Rico membawa uang suap dari Jhoni Wijaya Rp 1 miliar di kediaman Ridwan Mukti, pada saat itu menurut Rico Ridwan Mukti ada. Karena mobil Vereider dan mobil Alphard Putih ada di garasi. Setelah uang diserahkan kepada Lily Martiani Maddari, mobil yang dilihat Rico di garasi tidak ada lagi. “Fakta-fakta inilah, menjadi dasar kita menguatkan tersangka Ridwan Mukti mengendalikan,” kata Fitroh.

Rico adalah saksi kunci, kata Fitroh. Sudah buka-bukaan dalam sidang, dan tidak ada yang keterangan palsu. Yang disampaikan semuanya sesuai dengan hasil BAP. “Dalam sidang Riko tidak ada membantah. Memang RM tidak ada membuat pernyataan langsung, tapi dari fakta disampaikan Rico, memberi kejelasan, apapun dilakukan Lily diketahui RM. Buktinya di Jakarta, hasil pertemuan RM diketahui Lily saat bertemu lagi Rico Dian Sari,” paparnya.

Selain itu kata Fitroh, apapun yang dilakukan Lily terhadap Rico menanyakan fee proyek, seperti sudah terkoordinir. Pertama ketika Jhoni datang ke kantor Rico tanggal 6 Juni 2017, Jhoni Wijaya menanyakan kepada Rico “BERAPA YANG MEREKA MINTA?”. “Kalimat mereka, yang diucapkan Pak Jhoni menurut pemamaham Rico merujuk kepada Pak Gubernur Ridwan Mukti, bu Lily Maddari. Karena sebelumnya ada pertemuan,” imbuh Fitroh.

Selanjutnya, terkait fee proyek yang biasa diminta oleh RM dan bu Lily, kepada para kontraktor yang melaksanakaan pekerjaan di PUPR. “Rico menjelaskan, bahwa angka 10 persen untuk para pemenang lelang itu pernah disampaikan kepada Rico oleh Lily Martiani dan Rico Maddari, kepada Rico saat pertemuan di Cafe Club Jakarta. Bahkan dalam perngakuan Rico Diansari, pola fee 10 persen sudah kebiasaan dari Musirawas,” paparnya.

Pengakuan Rico juga, lanjut Fitroh, jika Lily tidak pakai tawar menawar lagi menetapkan fee proyek 10 persen. “Kata Lily ke Rico Diansari, kalau fee proyek-proyek Provinsi itu besar-besar. Riko mengatakan kok berat sekali kepada ibu Lily. Kemudian dijawab Lily Martiani, ya kami (Ridwan Mukti-Lily) di Musirawas juga segitu. Bahkan Lily juga mengatakan jika dalam hal ini di Pilkada kami (Ridwan Mukti-Lily) mengeluarkan modal besar,” tegasnya.

Satu hal lagi kata Fitroh, jika Rico meyakinkan jika apa yang disampaikan Lily diketahui oleh RM, seperti pelantikan pengurus partai Golkar. Saat Rico datang ke kediaman RM, di sana Lily mengatakan Rico akan ditetapkan sebagai Bendahara Partai. “Setelah itu benar-benar dilantik jadi pengurus partai. Saksi Rico menyatakan jika apa yang diomongkan (Dibicarakan oleh bu Lily adalah sepengetahuan dari Pak Ridwan Mukti),” demikian Fitroh.

Fakar hukum Pidana Universitas Bengkulu, Prof. Herlambang, SH, MH, menyatakan jika dari sidang-sidang yang dilaksanakan selama ini rentetan terjadinya suap, hingga sasaran OTT KPK, sudah jelas menunjukkan benang merah siapa aktor utamanya dalam kasus suap. “Sudah jelas, karena seperti yang disampaikan JPU KPK. Tidak mungkin berani istrinya Pak Gubernur nonaktif membuat kebijakan. Karena berwenang adalah gubernur,” tutupnya.

Fakta-Fakta Menguatkan Diduga Suap Rancangan RM

  1. Bulan September Ridwan Mukti memanggil Kuntadi Kepala Dinas PUPR, menggunakan bahasa Jawa, “Ojo Lali Lek Ono Susuke”, yang dipahami Kuntadi jangan lupa memberikan uang proyek.
  2. Tanggal 31 Mei 2017. Ridwan Mukti menitipkan pesan melalui Rico Khadafi, agar Rico Diansari bertemu Ridwan Mukti di Jakarta.
  3. Tanggal 1 Juni 2017, pertemuan berlangsung di lantai 5 Hotel Mulya Senayan Jakarta, aktivitas itupun terekam dalam CCTV Hotel. Tampak jelas pertama masuk Ridwan Mukti, disusul Rico Diansari, Rico Khadafi, Teza Afrisal (swasta) dan Rahmani Saifullah. “Dalam pertemuan ini Ridwan Mukti menyatakan tidak puas, karena yang datang tidak semua kontraktor”.
  4. Tanggal 5 Juni 2017, Ridwan Mukti memanggil semua Kontraktor pemenang lelang kembali, dan RM marah karena tidak datang ke Jakarta. Pad a hari itu Ridwan Mukti menyampaikan pesan kepada semua kontraktor, jika ada urusan (apa-apa) dikoordinasikan dengan Rico Dian Sari.
  5. Hari OTT, 20 Juni 2017, saat Rico menyerahkan uang suap Rp 1 miliar. Riko memastikan ada Ridwan Mukti, karena mobil Vereider dan mobil Alphard Putih ada di garasi. Setelah uang diserahkan kepada Lily Martiani Maddari, dan Rico keluar hendak pulang melihat mobil di garasi tidak ada lagi.
  6. Keterangan saksi Rico Dian Sari, memberitahu anak buahnya, Haris Taufan, bahwa Om RM minta tidak memakai kuitansi karena bahaya.
  7. Keterangan Rico Dian Sari, yang mana dalam pertemuan sebelumnya di tahun 2016 hingga 2017 Lily Martiani mengaku jika mereka terbiasa menetapkan fee proyek di Musirawas dengan besaran 10 persen dari nilai proyek.

Sumber; Harianrakyatbengkulu (rif), Fakta sidang terdakwa Jhoni Wijaya, Dakwaan JPU KPK terhadap Jhoni Wijaya, dan BAP.

Posted by: Admin Transformasinews.com