Dugaan Korupsi Kredit Bank Sumsel Babel Segera Disidangkan

Kasi Penerangan dan Hukum (Penkum) Kejati Sumsel, Khidirman. (Foto-Dedy/KoranSN)

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG – Kasi Penerangan dan Hukum (Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumsel, Khidirman, Selasa (8/10/2019) menegaskan, dugaan kasus korupsi kredit modal kerja Bank Sumsel Babel yang menimbulkan kerugian negara senilai Rp. 13 miliar segera disidangkan di Pengadilan Tipikor Palembang.

Menurutnya, hal tersebut lantaran saat ini Tim Jaksa Penutut Umum (JPU) yang terdiri dari Jaksa Kejati Sumsel dan Jaksa Kejari Palembang telah melimpahkan berkas perkara tersangka ‘AJ’ selaku Komisaris PT GI ke Pengadilan Negeri Kelas I A Palembang.

“Pelimpahan berkas perkara tersangka ‘AJ’ dilimpahkan Tim JPU ke Pengadilan Negeri Kelas I A Palembang pada Senin kemarin (7/10/2019). Jadi saat ini kami sudah melimpahkan berkasnya ke pengadilan,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, pelimpahan berkas perkara tersebut dilakukan setelah sebelumnya berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21, sehingga saat itu awalnya Jaksa Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Sumsel menyerahkan tersangka berikut barang bukti ke Kejari Palembang.

“Usai tersangka kami limpahkan ke Kejari, selanjutnya Tim JPU menyusun dakwaan. Nah, dikarenakan dakwaan sudah disusun makanya pada Senin kemarin berkas perkara dugaan kasus korupsi kredit modal kerja Bank Sumsel Babel tersebut dilimpahkan Tim JPU ke pengadilan,” terangnya

Diungkapkannya, dengan telah dilimpahkan berkas perkara tersebut ke Pengadilan Negeri Kelas I A Palembang maka tahap selanjutnya, pihak pengadilan nantinya akan membentuk Majelis Hakim yang akan menyidangkan tersangka ‘AJ’ di pengadilan.

“Oleh karena itulah dalam waktu dekat persidangan tersangka akan segera digelar di Pengadilan Tipikor Palembang. Dan dalam persidangan tersebut, tentunya juga akan mengungkap fakta-fakta hukum yang nantinya fakta tersebut ditindaklanjuti oleh jaksa penyidik dengan pengembangan penyelidikan,” tutupnya.

Diketahui, terkait dugaan kasus ini sebelumnya Sekretaris Bank Sumsel Babel, Faisol Sinin ketika dimintai konfirmasi dan tanggapan terkait dugaan kasus tersebut dan telah ditahannya satu tersangka oleh Kejati Sumsel, Minggu (29/9/2019) enggan berkomentar banyak.

“Kami masih mengikuti perkembangannya,” ujar Faisol Sinin saat itu.

Sementara Kasi Penkum Kejati Sumsel, Khidirman sebelumnya juga telah mengungkapkan, penetapan tersangka ‘AJ’ dalam dugaan kasus ini setelah Kejati Sumsel menerbitkan surat perintah penyidikan dengan Nomor SPDIK: PRINT-02/N.6/FD.1/08/2019 tanggal 7 Agustus 2019.

Dikatakannya, dugaan kasus ini terjadi bermula saat tersangka ‘AJ’, selaku Komisaris PT GI mengajukan pinjaman modal usaha kepada Bank Sumsel Babel dengan memberikan jaminan agunan berupa mesin bor tambang minyak dan dua bidang tanah yang berada di Jawa Barat.

“Pengajuan pinjaman tersebut terjadi di Kantor Bank Sumsel Babel pada tahun 2014 lalu. Dalam pertemuan dengan pihak Bank Sumsel Babel tersebut, tersangka ‘AJ’ menyodorkan agunan yang dijaminkan agar PT GI mendapatkan fasilitas kredit modal kerja, hingga dari pengajuan tersebut Bank Sumsel Babel menyetujui pengajuan tersangka dan PT GI menerima fasilitas kredit modal kerja senilai Rp. 15 miliar,” katanya saat itu.

Diungkapkannya, namun berjalannya waktu ternyata pembayaran kredit PT GI yang merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan di Kalimantan ini macet.

“Berawal dari temuan kredit macet tersebutlah lantas Jaksa Penyidik Kejati Sumsel melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi. Hasilnya, jaksa penyidik mendapati bukti jika dalam kredit modal kerja senilai Rp. 15 miliar yang dikucurkan oleh Bank Sumsel Babel kepada PT GI tersebut, terjadi kerugian negara, dimana hasil audit BPK RI dalam dugaan kasus ini negara mengalami kerugian mencapai Rp. 13 miliar lebih,” tegasnya.

Lebih jauh dijelaskannya, adapun faktor yang menjadi penyebab terjadinya kerugian negara tersebut, yakni karena tersangka ‘AJ’ menaikan atau melakukan mark-up harga agunan yang dijaminkan. Padahal, dari hasil penyelidikan diketahui jika harga agunan yang dibuat tersangka tidak sesuai dengan kenyataannya.

“Jadi, mesin bor untuk tambang minyak dan dua bidang tanah yang diagunkan nilainya dinaikan atau di mark-up oleh tersangka ‘AJ’. Tujuannya supaya aset yang jadi agunan tersebut memenuhi persayaratan dalam pengajuan kredit modal kerja ke Bank Sumsel Bebel. Namun kenyataannya, hasil dari penyelidikan kami aset yang diagunkan itu nilainya lebih murah dari nilai kredit yang diterima tersangka. Untuk itulah dalam dugaan kasus ini terjadi kerugian negara,” pungkasnya.

Sumber: koransn.com (ded)

Editor: A.Aroni

Posted by: Admin