Ada Dugaan Menutupi Perkara Lain Pada Penetapan TSK Direktur PT GU

OPINI  :

MAKI SUMBAGSEL. DOK.FOTO: TRANSFORMASINEWS.COM

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG – Pembangunan Pabrik Pusri II-B dalam rangka mengganti Pabrik Pusri-II dimana Prakualifikasi Lelang Pembangunan Pabrik Pusri II-B ini dimulai sejak 31 Januari 2012 dan Pemenang Lelang diumumkan pada 12 November 2012.  Effective Date Proyek Pusri II-B pada 7 Februari 2013  dengan masa pembangunan 34 bulan, sehingga Pabrik Pusri II-B akan mulai berproduksi pada Desember 2015.

Pada tanggal 14 Desember 2012 bertempat di kantor Pusri Perwakilan Jakarta, dilaksanakan Penandatanganan Kontrak Proyek Pusri II-B antara PT Pusri dengan Konsorsium PT Rekayasa Industri (PT Rekin) dan Toyo Engineering Corporation, disaksikan oleh Menteri BUMN, Bapak Dahlan Iskan dan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Bapak Arifin Tasrif.

PT Rekayasa Industri merangkul pihak ketiga atau Sub Kontraktor dalam pelaksanaan pembangunan Pusri II B itu.  PT GU menjadi salah satu rekanan PT Rekin berdasarkan perjanjian kesepakatan harga dan speks teknis pengadaan barang/jasa.

PT GU mendapatkan pasilitas kridit komersial dari PT Bank sumsel Babel untuk pembiayaan pelaksanaan pekerjaan tersebut.  Namun alih – alih mendapatkan keuntungan, PT GU ketiban masalah  kridit macet karena di duga PT Rekin menolak klaim pembayaran PT GU.

Penolakan pembayaran ini diduga di sebabkan adanya kerugian ratusan milyar di dalam internal keuangan PT Rekin yang diduga merupakan anak usaha PT Pupuk Indonesia . Akibat penolakan ini PT GU dinyatakan penunggak kridit oleh Bank Sumsel Babel sehingga mendapatkan pasilitas restrukturisasi hutang.

Kridit ini menjadi masalah hukum ketika agunan yang di ajukan PT GU  diduga menurun nilai estimasinya karena kondisi ekonomi global dengan turunnya harga minyak dunia.  Nilai estimasi Alat bor yang menjadi agunan PT GU diduga tidak sesuai lagi dengan nilai agunan saat pemberian pasilitas kridit.

Menjadi masalah besar bagi Bank sumsel Babel karena patut diduga pada proses administrasi pemberian kridit diduga berdasarkan protap yang seharusnya. Apreatel yang bertanggung jawab menilai agunan tidak dapat di persalahkan karena penilaian saat pemberian kridit.

Skema kridit menjadi kacau dan berpotensi tak tertagih karena nilai agunan menurun. Anehnya Direktur PT GU di tetapkan tersangka karena tunggakan kridit itu yang nota bene proses pemberian kriditnya adalah tanggung jawab analis Bank Sumsel Babel.

Bila penetapan tersangka karena dugaan adanya konsfirasi dalam pemberian pasilitas kridit maka tersangka yang di tetapkan tidaklah tunggal. Ada tersangka lain yang juga di tetapkan oleh Aparat Penegak Hukum yaitu oknum Bank Sumsel Babel yang menyetujui pasilitas kridit itu.

Termasuk kenapa PT Rekin tidak membayar invoice PT GU sehingga menyebabkan kridit tersebut menjadi kridit macet.

Opini: Maki Sumbagsel

Editor: A.Aroni

Posted by:Admin